
Kecerdasan buatan (AI) bukan lagi topik masa depan, melainkan teknologi yang sudah hadir di mana-mana: dari rekomendasi produk di e-commerce, fitur chatbot di aplikasi, hingga otomatisasi laporan keuangan. Bagi pelaku bisnis, pertanyaannya bukan lagi “perlu pakai AI atau tidak”, tetapi “bagaimana memanfaatkannya dengan aman dan strategis?”
Riset global menunjukkan bahwa sekitar 77% perusahaan sudah menggunakan atau berencana menggunakan AI dalam bisnis mereka, dan 64% pemilik bisnis yakin AI akan meningkatkan produktivitas. Di sisi lain, studi Forrester yang dikutip dalam laporan PwC menyebut 73% pengambil keputusan data dan analitik sedang membangun teknologi AI, dan 74% di antaranya sudah melihat dampak positif AI pada organisasi mereka.
AI Bukan Lagi Tren, Tapi Infrastruktur Bisnis Baru
AI kini menjadi infrastruktur strategis layaknya listrik dan internet. Laporan OECD 2025 menekankan bahwa adopsi AI di perusahaan berpotensi mengatasi perlambatan produktivitas di banyak negara maju dan menjadi pendorong penting pertumbuhan ekonomi.
Di tingkat operasional, contoh penerapannya cukup luas:
-
Di ritel, AI menganalisis data penjualan untuk memprediksi permintaan dan mengoptimalkan stok.
-
Di sektor layanan, chatbot berbasis AI bisa menjawab pertanyaan pelanggan 24/7.
-
Di manufaktur, machine learning membantu mendeteksi potensi kerusakan mesin sebelum benar-benar terjadi.
Khusus kawasan Asia, kesiapan digital juga meningkat pesat. Di India, misalnya, 71% pekerja dilaporkan memiliki kematangan digital tinggi dan sekitar 56% orang dewasa perkotaan sudah menggunakan teknologi GenAI, menjadikannya salah satu pasar paling siap mengadopsi AI di Asia Pasifik. Tren ini memberi gambaran bahwa kawasan berkembang—termasuk Indonesia—berpeluang melompat langsung ke era AI tanpa harus melalui tahap teknologi yang panjang.
Data, Talenta, dan Tantangan Implementasi
Meski potensinya besar, implementasi AI tidak selalu mulus. Laporan McKinsey 2023 mengenai keadaan AI global menemukan bahwa hanya sekitar 21% organisasi yang sudah memiliki kebijakan jelas terkait penggunaan generative AI oleh karyawan. Artinya, mayoritas perusahaan masih meraba-raba dalam hal tata kelola, privasi data, dan risiko seperti bias serta ketidakakuratan.
Tantangan utama yang sering muncul:
-
Kualitas dan ketersediaan data. AI hanya sebaik data yang digunakan untuk melatihnya. Data yang terkotak-kotak di berbagai departemen, tidak rapi, atau tidak terstandar akan menghambat hasil.
-
Kesenjangan talenta. Banyak perusahaan kekurangan SDM yang paham baik aspek teknis maupun bisnis dari AI, sehingga inisiatif sering berhenti di tahap pilot.
-
Kepercayaan dan etika. Konsumen mulai kritis terhadap penggunaan AI, terutama terkait transparansi dan perlindungan data pribadi.
Di sisi lain, survei global menunjukkan bahwa 65% konsumen justru lebih percaya pada bisnis yang mengadopsi AI, selama implementasinya jelas dan transparan.Ini menegaskan pentingnya komunikasi dan tata kelola yang baik.
Langkah Strategis Memulai Transformasi AI
Agar tidak sekadar ikut tren, perusahaan—termasuk UMKM dan perusahaan menengah—dapat memulai transformasi AI dengan pendekatan berikut:
-
Mulai dari masalah bisnis yang konkret. Alih-alih langsung membangun tim data besar, identifikasi 1–2 kasus penggunaan yang jelas nilai bisnisnya, misalnya pengurangan waktu respon layanan pelanggan atau peningkatan akurasi perencanaan stok.
-
Rapikan fondasi data. Susun standar pengumpulan, penyimpanan, dan akses data. Bangun data governance yang mengatur kualitas, keamanan, dan hak akses. Tanpa fondasi ini, proyek AI akan mudah buntu.
-
Bangun kebijakan dan etika AI. Tetapkan pedoman internal: jenis data apa yang boleh diunggah ke alat AI, siapa yang bertanggung jawab meninjau hasil, dan bagaimana menangani kesalahan.
-
Investasi pada pelatihan. Tidak semua orang harus menjadi ilmuwan data, tetapi karyawan kunci perlu memahami cara kerja dasar AI dan batas-batasnya.
-
Kolaborasi dengan mitra teknologi. Bagi perusahaan yang belum punya tim internal, menggandeng mitra teknologi atau startup lokal dapat mempercepat implementasi sekaligus transfer pengetahuan.
Gelombang AI sedang berlangsung dan akan terus menguat. Perusahaan yang bergerak lebih awal dengan strategi yang jelas—menggabungkan data yang baik, talenta yang tepat, dan tata kelola yang kuat—akan berada di garis depan dalam persaingan. Sebaliknya, menunda terlalu lama hanya akan membuat bisnis tertinggal ketika AI sudah menjadi standar minimum, bukan lagi keunggulan kompetitif.